Pasih Uwug satu-satunya obyek wisata yang berada di Nusa Penida, selain
keberadaan pasih uwug itu sendiri yang sangat menarik untuk dilihat,
pemandangan sekeliling nyapun tak kalah menarik untuk dijadikan obat pelipur
saat ada kegalauwan menyelimuti hati, hamparan buih putih yang diterpa angin
semilir dikala senja sungguh menakjubkan yang disuguhkan oleh ombak-ombak kecil
di samudra yang luas. Sejauh mata memandang sejauh itu pula keindahan-keindahan
ombak yang saling berkejaran disuguhkan oleh laut biru walau terkadang berkelip
bayangan hotel-hotel yang ada di Nusa Dua Bali.
Pada saat malam akan memperkosa siang, pemandangan matahari terbenam yang selalu tanpa henti setiap harinya menemani posisi pasih uwug. Tatkala hari telah malam, keheningan seputar pasih uwug semakin menambah kesakralan keberadaannya yang konon pasih uwug ini terbentuk dari ulah manusia yang tinggal diseputarnya.
Apalagi dekat pasih uwug ini terdapat tiga telaga kecil yang masing-masing mempnyai daya tarik tersendiri, sehingga sangat terasa energi yang kuat terpancar membentengi lokasi ini. Menurut legenda atau cerita rakyat yang singkat tentang terbentuknya pasih uwug ini bermula dari salah satu keluarga yang bermukim tepat diatas yang belum terbentuk lubang besar menganga. Seputar pasih uwug ini dihuni oleh beberapa keluarga petani, tempat tinggalnyapun terpencar, selain yang tinggal diatas tanah yang dulunya sebelum terjadi proses lubang ada yang tinggal ditepi tebing bahkan di seberang tebing yaitu tepatnya di atas batu yang ada di seberang, konon dulunya menjadi satu daratan dengan posisi lubang besar sekarang ini.
Awal kisah terjadinya pasih uwug bermula dari Pak Tani yang hendak menanam jagung. Menanam jagung di Nusa Penida pada umumnya mempergunakan alat yang berupa kayu yang ber ujung lancip untuk membuat lubang kecil ditanah yang akan di tanamijagung.
Saat Pak Tani membuat alat tersebut ( penyugjugan) kayu yang telah diperoleh dari hutan seputaran pasih uwug ini lalu dilancipkan menggunakan parang yang dibawah pohon besar dan berlanskan akar pohon tersebut. Namun hal aneh yang terjadi saat parang Pak Tani mengenai akar pohon tersebut, akar pohon yang terkena parang Pak Tani terluka dan mengeluarkan darah.
Dengan adanya darah yang keluar dari akar pohon tersebut membuat Pak Tani semakin penasaran untuk lebih tahu seraya memberitahu tetangga dan teman- temannya. Datanglah rame-rame orang-orang yang tinggal diseputar pasih uwug ketempat akar yang berdarah.
Dan tanpa berpikir panjang akar pohon tersebut dipotong-potong lalu dibagikannya pada semua warga pasih uwug untuk dimasak dan dimakan. Setelah malam tiba, kebetulan malam itu malam menjelang bulan purnama, berkumpulah sebagian besar warga pasih uwug dipelataran rumah Pak Tani yang menemukan akar berdarah tersebut sembari menceritakan betapa enaknya akar kayu yang berdarah itu.
Tidak berapa lama datanglah seorang Pak Tua yang sudah renta dan kumal yang tak dikenal oleh siapapun yang ada diseputaran pasih uwug. Pak Tua pun segera memberikan nasehat pada semua yang ada di pelataran rumah Pak Tani, untuk kedepannya jangan lagi berbuat seperti siang tadi sembarangan memotong dan membagi-bagi daging sapi milik orang lain. Sebagian warga yang hadir dengan suara yang keras membentak PakTua dan tidak terima atas nasehatnya yang juga secara tidak langsung mengatakan warga mencuri sapi.
Dengan demikian untuk menguji kebenaran warga bahwa dirinya tidak mencuri sapi seperti yang dituduhkan oleh Pak Tua. Pak Tua lalu mengeluarkan sebatang lidi daun kelapa dan langsung menancapkannya ketanah, setelah lidi tertancap di tanah Pak Tua berkata, “Hai orang-orang yang ada disini, barang siapa yang mampu mencabut lidi ini dan lidi ini mampu tercabut olehnya, itu menandakan bahwa orang-orang disini memang jujur dan tidak benar mencuri sapiku” Setelah Pak Tua selesai berkata demikian, saling berebut orang-orang yang hadir ingin mencabut lidi tersebut, sehingga tak satupun orang yang mampu mencabut lidi tersebut.
Karena tak ada yang mampu mencabut lalu Pak Tua berkata lagi. “ Nah karena kalian tidak mampu mencabut lidiku maka itu artinya kalian sudah tidak jujur lagi pada diri kalian semua dan lihatlah sekarang aku akan mencabut lidi ini. Pak Tua dengan segera mencabut lidi yang ditancapkanya ditanah, setelah lidi tercabut keluarlah air dengan sangat cepat dari tanah bekas lidi menancap, air keluar dengan kecepatan yang tak terpikirkan, air lautpun bergejolak keras disebelah barat pasih uwug sehingga banyak menghancurkan daratan dan rumah penduduk yang ada, lubang besarpun timbul dengan sangat cepat sehingga rumah yang ada di seputaran lidi tertancap hilang dengan seketika bagaikan ditelan bumi.
Pak Tua hilang tanpa bekas, orang-orang seputaran pasih uwugpun juga ikut hilang diterjang air dan ombak gejolak air laut.
Pada saat malam akan memperkosa siang, pemandangan matahari terbenam yang selalu tanpa henti setiap harinya menemani posisi pasih uwug. Tatkala hari telah malam, keheningan seputar pasih uwug semakin menambah kesakralan keberadaannya yang konon pasih uwug ini terbentuk dari ulah manusia yang tinggal diseputarnya.
Apalagi dekat pasih uwug ini terdapat tiga telaga kecil yang masing-masing mempnyai daya tarik tersendiri, sehingga sangat terasa energi yang kuat terpancar membentengi lokasi ini. Menurut legenda atau cerita rakyat yang singkat tentang terbentuknya pasih uwug ini bermula dari salah satu keluarga yang bermukim tepat diatas yang belum terbentuk lubang besar menganga. Seputar pasih uwug ini dihuni oleh beberapa keluarga petani, tempat tinggalnyapun terpencar, selain yang tinggal diatas tanah yang dulunya sebelum terjadi proses lubang ada yang tinggal ditepi tebing bahkan di seberang tebing yaitu tepatnya di atas batu yang ada di seberang, konon dulunya menjadi satu daratan dengan posisi lubang besar sekarang ini.
Awal kisah terjadinya pasih uwug bermula dari Pak Tani yang hendak menanam jagung. Menanam jagung di Nusa Penida pada umumnya mempergunakan alat yang berupa kayu yang ber ujung lancip untuk membuat lubang kecil ditanah yang akan di tanamijagung.
Saat Pak Tani membuat alat tersebut ( penyugjugan) kayu yang telah diperoleh dari hutan seputaran pasih uwug ini lalu dilancipkan menggunakan parang yang dibawah pohon besar dan berlanskan akar pohon tersebut. Namun hal aneh yang terjadi saat parang Pak Tani mengenai akar pohon tersebut, akar pohon yang terkena parang Pak Tani terluka dan mengeluarkan darah.
Dengan adanya darah yang keluar dari akar pohon tersebut membuat Pak Tani semakin penasaran untuk lebih tahu seraya memberitahu tetangga dan teman- temannya. Datanglah rame-rame orang-orang yang tinggal diseputar pasih uwug ketempat akar yang berdarah.
Dan tanpa berpikir panjang akar pohon tersebut dipotong-potong lalu dibagikannya pada semua warga pasih uwug untuk dimasak dan dimakan. Setelah malam tiba, kebetulan malam itu malam menjelang bulan purnama, berkumpulah sebagian besar warga pasih uwug dipelataran rumah Pak Tani yang menemukan akar berdarah tersebut sembari menceritakan betapa enaknya akar kayu yang berdarah itu.
Tidak berapa lama datanglah seorang Pak Tua yang sudah renta dan kumal yang tak dikenal oleh siapapun yang ada diseputaran pasih uwug. Pak Tua pun segera memberikan nasehat pada semua yang ada di pelataran rumah Pak Tani, untuk kedepannya jangan lagi berbuat seperti siang tadi sembarangan memotong dan membagi-bagi daging sapi milik orang lain. Sebagian warga yang hadir dengan suara yang keras membentak PakTua dan tidak terima atas nasehatnya yang juga secara tidak langsung mengatakan warga mencuri sapi.
Dengan demikian untuk menguji kebenaran warga bahwa dirinya tidak mencuri sapi seperti yang dituduhkan oleh Pak Tua. Pak Tua lalu mengeluarkan sebatang lidi daun kelapa dan langsung menancapkannya ketanah, setelah lidi tertancap di tanah Pak Tua berkata, “Hai orang-orang yang ada disini, barang siapa yang mampu mencabut lidi ini dan lidi ini mampu tercabut olehnya, itu menandakan bahwa orang-orang disini memang jujur dan tidak benar mencuri sapiku” Setelah Pak Tua selesai berkata demikian, saling berebut orang-orang yang hadir ingin mencabut lidi tersebut, sehingga tak satupun orang yang mampu mencabut lidi tersebut.
Karena tak ada yang mampu mencabut lalu Pak Tua berkata lagi. “ Nah karena kalian tidak mampu mencabut lidiku maka itu artinya kalian sudah tidak jujur lagi pada diri kalian semua dan lihatlah sekarang aku akan mencabut lidi ini. Pak Tua dengan segera mencabut lidi yang ditancapkanya ditanah, setelah lidi tercabut keluarlah air dengan sangat cepat dari tanah bekas lidi menancap, air keluar dengan kecepatan yang tak terpikirkan, air lautpun bergejolak keras disebelah barat pasih uwug sehingga banyak menghancurkan daratan dan rumah penduduk yang ada, lubang besarpun timbul dengan sangat cepat sehingga rumah yang ada di seputaran lidi tertancap hilang dengan seketika bagaikan ditelan bumi.
Pak Tua hilang tanpa bekas, orang-orang seputaran pasih uwugpun juga ikut hilang diterjang air dan ombak gejolak air laut.
Demikianlah sekelumit cerita rakyat yang beredar di Nusa Penida bagian
barat, sehingga tempat itu dinamakan Pasih Uwug atau Laut Rusak, sebagai bukti
bahwa tempat ini pernah dihuni penduduk, di bongkahan batu karang besar yang
ada di seberang barat lubang besar pasih uwug beberapa tahun yang telah lalu sekitar
tahun 1982 sd 1985 penulis melihat diatas bongkahan batu karang besar tersebut
masih berdiri sebuah tiang rumah (jineng) yaitu rumah yang selalu ditempatkan
ditengah-tengah pekarangan sebagai tempat menyimpan hasil panen. Namun terakhir
penulis datang di pasih uwug tiang rumah tersebut telah menghilang, mungkin
karena termakan usia atau mungkin pula karena ulah manusia.
Ok pengunjung yang terhormat, sampai disini dulu penulis menyambung lidah
tetua penulis untuk selalu diingat dan dipetik hikmahnya khususnya kejujuran
untuk diri sendiri sangat diperlukan dalam menjalani hidup ini untuk landasan
perjalanan menuju ujung kehidupan. Terima kasih atas kunjungannya sampai jumpa
lagi disecuil cerita lainnya. (((((((((MTG)))))))))



good story....
ReplyDeletevisit here : http://kabeh-nuza.blogspot.com/2013/06/masalah-yang-ada-di-nusa-penida.html